Beberapa hari terakhir, dunia maya dihebohkan oleh sosok Ara, bocah kecil yang tanpa sadar bikin gaduh seantero media sosial. Dalam sebuah video yang viral, Ara dengan polosnya mengomentari tentang “Teteh bubaran pabrik hinyai” saat meminta pelembap ke ibunya. Seketika, komentar itu memancing berbagai reaksi—dari yang tertawa geli, geram, hingga yang menganggap ini bukti nyata tantangan dalam mendidik Generasi Alpha.
Fenomena ini menarik untuk dibahas, bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami bagaimana pola asuh kita sebagai orang tua menghadapi anak-anak yang tumbuh di era digital ini. Yuk, kita kupas tantangan dan solusinya!
Siapa Itu Generasi Alpha?
Sebelum jauh-jauh membahas soal Ara, kita kenalan dulu sama Generasi Alpha. Anak-anak yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025 ini adalah generasi pertama yang benar-benar lahir dalam era digital. Mereka tumbuh dengan gawai di tangan, terbiasa dengan internet, dan lebih cepat menyerap informasi dibanding generasi sebelumnya.
Tapi di balik kecerdasan digital mereka, ada tantangan besar bagi para orang tua. Salah satunya? Ya seperti kasus Ara ini—mereka bisa berkata-kata tanpa menyaring dulu dampaknya.
Kasus Ara dan Apa yang Bisa Kita Pelajari
Kembali ke cerita Ara, video polosnya yang menyebut “hinyai” untuk menggambarkan kulit kusam pekerja pabrik langsung viral. Banyak yang tersinggung karena menganggap itu merendahkan para pekerja keras di industri manufaktur. Tapi di sisi lain, ada yang menyadari bahwa Ara hanyalah seorang anak kecil yang sedang meniru atau mengulang apa yang ia dengar dari lingkungan sekitarnya.
Inilah salah satu tantangan terbesar dalam mendidik Generasi Alpha—mereka menyerap informasi dengan cepat, tapi belum tentu paham dampaknya. Apa yang mereka lihat, dengar, dan konsumsi dari media sosial atau lingkungan sekitar bisa langsung mereka tiru tanpa filter.
Tantangan Pola Asuh Generasi Alpha
Mendidik Generasi Alpha nggak bisa pakai pola asuh yang sama seperti zaman dulu. Berikut beberapa tantangan yang sering dihadapi orang tua:
- Mereka Terpapar Informasi Sejak Dini
Anak-anak sekarang bisa mengakses YouTube, TikTok, dan Instagram bahkan sebelum bisa membaca lancar. Hal ini membuat mereka lebih cepat menyerap tren, bahasa, dan cara berpikir dari luar tanpa memahami konteks sepenuhnya. - Belum Bisa Menyaring Informasi dengan Baik
Seperti kasus Ara, mungkin ia pernah mendengar istilah “hinyai” dari orang lain tanpa benar-benar tahu bahwa itu bisa dianggap merendahkan orang lain. Anak-anak Generasi Alpha sering meniru apa yang menurut mereka menarik tanpa berpikir panjang. - Pengaruh Media Sosial yang Kuat
Saat ini, anak-anak bukan hanya menonton televisi seperti generasi sebelumnya, tapi mereka juga terlibat langsung dalam media sosial. Mereka melihat, berkomentar, dan bahkan jadi bagian dari tren yang sedang viral. - Perubahan Nilai dan Norma Sosial
Dulu, anak-anak lebih banyak belajar etika dan sopan santun dari lingkungan keluarga. Sekarang, mereka belajar banyak hal dari dunia maya. Peran orang tua dalam mengajarkan nilai-nilai moral semakin krusial.
Solusi dalam Mendidik Generasi Alpha

Nggak perlu panik! Ada banyak cara agar kita bisa membimbing anak-anak Generasi Alpha agar lebih bijak dalam berkata dan bertindak:
- Ajarkan Literasi Digital Sejak Dini
Jangan anggap anak masih terlalu kecil untuk diajarkan etika di dunia digital. Sejak mereka mulai menggunakan gawai, ajarkan bahwa tidak semua yang ada di internet itu benar dan tidak semua kata boleh diucapkan tanpa berpikir. - Berikan Contoh yang Baik
Anak-anak adalah peniru ulung. Kalau mereka mendengar orang tua atau lingkungan sekitar sering berkata sembarangan, mereka juga akan meniru. Jadi, sebelum menegur anak, pastikan kita juga menjadi contoh yang baik. - Batasi dan Dampingi Konsumsi Media Sosial
Jangan biarkan anak terlalu bebas dalam mengakses internet. Dampingi mereka saat menonton video atau bermain media sosial agar kita bisa menjelaskan mana yang baik dan mana yang tidak pantas ditiru. - Ajak Berdiskusi, Bukan Hanya Melarang
Saat anak melakukan kesalahan, seperti Ara, jangan langsung memarahi mereka tanpa memberi penjelasan. Tanyakan, “Kamu tahu nggak kenapa kata-kata itu bisa bikin orang lain sakit hati?” Dengan begitu, mereka akan belajar memahami perasaan orang lain. - Tanamkan Rasa Empati Sejak Kecil
Anak perlu diajarkan untuk memahami perasaan orang lain. Misalnya, kita bisa menjelaskan kepada mereka bahwa pekerja pabrik adalah orang-orang yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Dengan begitu, mereka bisa lebih menghargai profesi orang lain.
Kesimpulan
Kasus Ara hanyalah satu dari sekian banyak contoh tantangan dalam mengasuh Generasi Alpha. Anak-anak zaman sekarang tumbuh di era yang berbeda, dengan pengaruh teknologi yang sangat besar. Oleh karena itu, peran orang tua dalam membimbing mereka sangatlah penting.
Alih-alih hanya menyalahkan anak saat mereka berkata atau bertindak kurang pantas, kita perlu melihat lebih dalam—dari mana mereka belajar hal tersebut? Apa yang bisa kita lakukan agar mereka lebih bijak? Dengan pendekatan yang lebih terbuka, penuh diskusi, dan didukung oleh contoh nyata dari orang tua, anak-anak Generasi Alpha bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, lebih empati, dan lebih bijak dalam bersosial di era digital ini.
Jadi, siap mendidik Generasi Alpha dengan cara yang lebih modern dan adaptif? 🚀
Pola Asuh Generasi Alpha: Tantangan, Cara Mendidik, dan Solusi Efektif di Era Digital